~ JgN jd SepeRTi BuRung ~


Assalamu'alaikum

Dalam lapang, ana terjumpa satu artikel yang sangat menarik untuk dibaca, ana kongsikan sebagai renungan kita bersama.

Aturan Hidup Seorang Hamba

Dalam al-Qur'an terdapat kisah yang sangat menarik untuk dijadikan uswah. Di mana ada seorang ibu yang bercita-cita ingin menjadikan anaknya seorang hamba yang shalih. Hamba yang akan menegakkan agama Allah di permukaan bumi.

Kisah itu termaktub pada surah Ali 'Imran 35: "(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'."

Dia tidak menginginkan anaknya menjadi seorang yang ada gelaran kesarjanaan, jabatan dan kedudukan yang terhormat. Dia tidak menginginkan sesuatu yang sifatnya keduniawian yang hanya berkisar pada pemenuhan keperluan perut, syahwat dan tempat tinggal.

Mencari nafkah memang perlu, bahkan wajib. Demikian juga mencari tempat tinggal, juga perlu. Akan tetapi hidup yang dikurniakan Allah ini, bukan hanya untuk mencari makan, lalu menikah dan beranak pinak saja. Setelah anaknya dewasa disuruhlah mereka mencari nafkah sendiri.

Jika hidup hanya seperti ini, sama dengan hidupnya burung. Pagi-pagi sudah bertebaran mencari makanan, kembali ke sarang perutnya sudah kenyang. Anak-anaknya yang masih kecil-kecil di dalam sarang diberikan makanan yang dibawanya. Malamnya kumpul kembali sekeluarga di sarang. Pekerjaan ini terus berlangsung setiap hari sehingga anaknya mampu mencari makan sendiri. Burung-burung yang telah dewasa mengerjakan pula rutin seperti seniornya. Mencari makan, kawin, buat rumah dan membesarkan anak.

Bila gelaran, pangkat dan kedudukan yang tinggi hanya untuk memenuhi kemahuan perut dan nafsu, tentulah hidupnya berada pada darjat yang rendah. Tidak ada cita-cita lain dalam hidupnya kecuali untuk itu. Bekerja untuk mencari makan. Makan untuk bekerja. Berputar pada perkara yang sama.

Padahal tugas manusia bukan untuk itu. Tugas manusia adalah menjadi khalifah, wakil Allah di muka bumi. Sebagai wakil Allah, haruslah ia berusaha menjalankan aturan-aturan Allah di permukaan bumi. Menegakkan kalimah-Nya dan memenangkan agama-Nya.

Jika hidup hanya unutk mencari makan saja, cicak pun bisa. Dia yang hanya menempel di dinding dan tidak boleh terbang, tapi tetap boleh hidup dengan memakan serangga bersayap. Dia hanya menunggu nyamuk-nyamuk yang kekenyangan hinggap di dinding, sehingga dapat menangkapnya dengan mudah.

Lihatlah isteri 'Imran, dia hanya mencita-citakan anaknya menjadi anak yang shalih dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Dia tidak mencita-citakan anaknya mendapatkan pangkat, kedudukan, kekayaan dan lain sebagainya yang sifatnya hanya duniawi semata.

Adakah di zaman sekarang ini seorang ibu yang mempunyai cita-cita seperti itu? Rasanya hanya sedikit orang saja yang mempunyai cita-cita seperti itu. Pastilah kita dapati kebanyakan ibu-ibu menghendaki anaknya mempunyai status sosial yang tinggi. Punya gelaran, kedudukan, pangkat, jabatan, atau menjadi orang kaya.

Cita-cita yang dimiliki isteri 'Imran ini memang janggal dan aneh menurut ukuran dan pandangan orang sekarang. Tapi itulah cita-cita yang akan membezakan kedudukan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia mulia kerana fungsi kekhalifahannya digunakan. Yakni menegakkan kalimah tauhid di setiap sudut bumi manapun. Itulah tugas utama seorang hamba. Dari tingkat rasul sampai kepada tingkat kita sebagai manusia biasa.

Sang ibu bila mempunyai cita-cita yang mulia ini, janganlah lupa bila telah terlahir seorang anak, maka cepat-cepatlah meminta pertolongan, perlindungan dan pemeliharaan Allah dari syaitan yang terkutuk. Syaitan tidak akan tinggal diam membiarkan anak tersebut mencapai cita-citanya. Pastilah dia akan menggoda, merayu dan membisikkan bisikannya yang penuh tipu daya agar anak tersebut langkah-langkahnya menyimpang dan tersesat. Syaitan akan berusaha menggelincirkannya pada jalan yang menjerumuskannya pada kemungkaran.

Inilah perlunya meminta pertolongan dan perlindungan Allah. Jika Allah telah melindunginya pastilah dia akan terpelihara dari godaan syaitan yang akan menyesatkannya.

Akan tetapi cita-cita yang luhur, agung dan mulia saja belum cukup untuk mendapatkan anak yang diidam-idamkan itu. Masih ada perangkat lain yang menunjang tercapainya tujuan ini. Yakni pendidikan dan lingkungan.

Maryam -anak keluarga 'Imran- menjadi hamba yang shalihah dan taat berkat adanya didikan dan lingkungan yang menjaganya. Dia dididik oleh manusia pilihan Allah, Nabi Zakaria. Maryam dididiknya dengan baik dan pemeliharaan yang penuh kasih sayang. Terdidiklah Maryam menjadi seorang manusia yang suci. Manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT.

Jelaslah di sini bahawa untuk mewujudkan cita-cita itu perlu pendidikan, lingkungan dan suasana yang menyokong. Keinginan untuk menjadikan anak yang shalih harus didukung faktor-faktor tersebut. Tanpa itu, jangan harap mampu menjadi kenyataan. Berat untuk mewujudkan kalau anak-anak kita dididik dengan pendidikan yang jauh dari norma-norma agama.

Pendidikan yang berkiblat ke Barat yang sekular, adalah pendidikan yang membentuk keperibadian anak menjadi materialistis dan hedonisme. Ditambah lagi dengan lingkungan yang boleh menyeret pada tindak kelakuan menyimpang dari fitrah kemanusiaan. Yang hanya mengembangkan dominasi nafsu dan mematikan peranan serta ruh.

Langkah-langkah yang dipakai atau digunakan untuk membentuk anak yang shalih dan mempunyai cita-cita menegakkan kalimah Allah adalah dengan memasukkan anak-anak kita pada tempat yang telah sesuai untuk itu. Di tempat yang sudah menyiapkan peringkat-peringkat yang memprogram proses pemupukan cita-cita mulia ini. Lingkungan dan pendidikan yang boleh diaplikasi tentang tugas dan kewajiban seorang hamba yang diciptakan Allah.

Apa perlunya Allah menciptakan manusia? Dan apa peranannya di muka bumi? Apakah hanya untuk makan, kawin dan hasilkan rumah? Perlu sekali kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui itu semua. Apalah ertinya kita hidup di dunia ini bila tidak mengetahui peranan dan fungsi kita. Tidak ada nilai lebih yang kita dapati, bila dalam kehidupan ini tidak mengetahui arah dan tujuannya.

Untuk mencari tempat atau lingkungan seperti itu di zaman sekarang ini memang cukuplah sulit. Lingkungan yang ditatap secara alamiah, ilmiah dan Islamiah. Lingkungan yang mencambahkan ghairah keislaman dan pemahaman peranan manusia sebagai seorang khalifah. Seseorang yang menjadi pesuruh-pesuruh Allah dalam menerapkan aturan-aturan-Nya, ayat-ayat-Nya atau ketentuan-ketentuan-Nya di permukaan bumi. Seseorang yang akan berjuang terus selama kalimah "La ilaha illallah" belum mampu ditegakkan. Selama syariat-syariat Allah belum dijalankan. Dan selama firman-firman Allah belum diterapkan.

Kesulitan untuk mencari tempat seperti ini janganlah menjadikan kita berputus asa. Insya Allah bila kita telah mencita-citakan untuk li i'laikalimatillah yang mulia dan berusaha untuk terus mencari, pastilah Allah akan mengantarkan kita pada tempat yang diidamkan. Allah SWT akan mengantarkan dan menunjuki jalan kepada hamba-Nya yang selalu mencari kebenaran. Hidayah Allah akan diberikan kepada makhluk yang Dia kehendaki.

Sungguh agung cita-cita ini. Tiada lagi cita-cita yang mampu memberikan kemuliaan kecuali cita-cita menegakkan kalimah Allah. Berbahagialah hamba-hamba Allah yang berkeinginan mendapatkan darjat kemanusiaan yang tertinggi dan terhormat. Cita-cita yang akan mendapatkan ganjaran dari Allah berupa kenikmatan yang tiada taranya, yakni jannah. Kenikmatan yang belum pernah terlintas pada pendengaran, penglihatan, dan hati. Hidup kekal selamanya dalamnya.


Subhanallah...

Share/Bookmark

0 comments:



Dimanakah lagi 'kegelapan' pada jiwa yg mengenal Allah dan Rasul-Nya.
Powered by Blogger.